Jakarta, CNN Indonesia --
Data 13 asosiasi penyelenggara ibadah haji dan umrah (PIHU) mencatat per 1 Maret lalu, sekitar 14 ribu jemaah umrah masih tertahan di Arab Saudi dan beberapa negara lain di Timur Tengah.
Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah (Himpuh), Firman Taufik menjelaskan selain di Arab Saudi, mereka yang tertahan merupakan para jemaah yang tengah berada di negara transit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang paling terdampak adalah jemaah yang tertahan di negara transit yang wilayah udaranya tertutup," ujar Firman saat dihubungi, Selasa (2/3).
Dia menuturkan, para jemaah yang tertahan disebabkan dua hal, yakni jalur udara negara tujuan yang ditutup dan kebijakan maskapai. Umumnya dua hal itu imbas konflik perang Timur Tengah yang kian meluas.
"Pemerintah RI harus dapat memastikan selama jemaah bel dapat diterbangkan keluar dari negara tersebut, terjamin keamanannya, terfasilitasi kebutuhan akomodasinya dan terburuk mengirim misi penjemputan," ujar Firman.
Di luar itu, asosiasi juga mencatat tak kurang 51 ribu jemaah yang tertunda keberangkatannya. Firman menilai pemerintah perlu mengambil langkah terhadap jemaah tersebut.
Dia mengaku telah menggelar rapat dengan kementerian terkait dan maskapai membahas kondisi tersebut. Masalahnya, kata Firman, khusus jemaah yang ditunda, tak semua maskapai mau mengembalikan tiket keberangkatan hingga 100 persen.
"Ini yang harus diperjuangkan PPIU bersama pemerintah, termasuk juga resiko biaya dari sektor perhotelan, karena yang akan sangat dirugikan adalah jemaah," katanya.
(fra/thr/fra)

1 hour ago
1

















































