DPR Minta Kemenkes Tak Anggap Remeh Super Flu Usai Telan Korban

3 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan pengawasan penyebaran Influenza A (H3N2) subclade K atau super flu usai menewaskan satu korban jiwa di Bandung, Jawa Barat.

Yahya mengatakan korban tewas akibat super flu membuktikan penyakit itu tak bisa dianggap remeh, terlebih bagi orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

"Karena itu, Kemenkes harus meningkatkan surveilans secara menyeluruh kepada seluruh warga, terutama di daerah-daerah yang sudah terjangkit," kata Yahya dalam keterangannya, Selasa (13/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia meminta Kemenkes memberi peringatan yang jelas kepada masyarakat mengenai potensi dan bahaya super flu. Sekaligus meluruskan pernyataan Menteri Kesehatan yang sebelumnya menyebut super flu tidak berbahaya.

"Dengan bukti ada yang meninggal, super flu termasuk penyakit yang membahayakan," ucapnya.

Yahya mendorong Kemenkes menyiapkan langkah-langkah antisipatif, mulai dari kesiapan rumah sakit, ketersediaan dokter spesialis, obat-obatan, hingga vaksin, jika penyebaran super flu meluas ke berbagai daerah.

Selain itu, dia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus tersebut. Ia mendorong warga menjaga kebugaran tubuh dengan rutin berolahraga, menghindari kerumunan, serta menggunakan masker saat berada di tempat ramai.

Antisipasi terutama juga harus dilakukan pemerintah daerah untuk mencegah penyebaran super flu. Misalnya, dengan menyiapkan fasilitas rumah sakit bagi warga yang terinfeksi.

"Pemda harus bersiap, termasuk menyiapkan rumah sakit bagi warganya yang terkena super flu," ujar politikus Golkar itu.

Pihak RSHS Bandung sebelumnya melaporkan telah menangani total 10 pasien yang menunjukkan gejala infeksi Influenza A H3N2 subclade K. Dari total pasien tersebut, satu orang dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat kondisi bawaan yang memburuk.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging RSHS Bandung, dr Yovita Hartantri, memaparkan bahwa timnya telah melakukan pemantauan ketat terhadap pasien yang diduga terpapar 'Super Flu' sejak periode Agustus hingga November 2025. Berdasarkan data yang dihimpun, tren kasus sebenarnya telah menunjukkan penurunan signifikan sejak November tahun lalu.

"Meskipun sampel diperiksa secara bertahap, data lengkap mengenai 10 kasus yang dinyatakan positif Influenza A H3N2 subclade K ini baru kami terima secara utuh pada bulan Januari ini," ungkap dr Yovita dalam penjelasannya di Auditorium Gedung MCHC RSHS Bandung, Kamis (8/1).

(thr/isn)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |