Pancasila Hidup di Desa Tempuran: Toleransi Nyata, Bukan Sekadar Hafalan

2 hours ago 2

TEMANGGUNG-Di tengah hiruk pikuk isu intoleransi yang kerap mewarnai pemberitaan, Desa Tempuran di Kecamatan Kaloran, Temanggung, menyuguhkan sebuah potret kehidupan yang menyejukkan hati. Di sini, Pancasila bukan sekadar pasal dalam buku pelajaran atau hafalan kaku dalam upacara. Ia menjelma menjadi denyut nadi kehidupan, sebuah kepribadian yang terjalin erat dalam harmoni antarumat beragama.

Keunikan sosiologis inilah yang mendorong Komandan Kodim (Dandim) 0706/Temanggung, Letkol Inf Hermawan Adi Nugroho, M.Han., untuk secara langsung mengunjungi Kampung Pancasila di Desa Tempuran pada Selasa (24/06/2026). Kunjungan ini bukan sekadar agenda birokratis, melainkan sebuah kesempatan berharga untuk merajut dialog budaya dan merenungkan makna kebangsaan yang mendalam.

Setibanya di lokasi, rombongan Dandim, yang turut didampingi Kasdim Mayor Cba Agustus Jumawan, Pasiter Kapten Inf Astoria, dan Danramil 9/Kaloran Kapten Inf Heri Wibowo, disambut hangat oleh Camat Kaloran Juli Riastiana T., S.Sos., M.M., Kepala Desa Tempuran Priyanto, beserta jajaran tokoh masyarakat, agama, dan adat setempat.

Suasana penuh keakraban terasa saat forum diskusi digelar di Rumah Pancasila, sebuah bangunan sarat makna dengan puncak yang dihiasi lambang Garuda. Kepala Desa Tempuran, Priyanto, tak dapat menyembunyikan rasa syukur dan harunya atas kehadiran Dandim.

"Kami tidak menduga kejatuhan takdir yang mulia ini. Desa Tempuran memiliki sejarah lokal yang dalam, bahkan pernah menjadi lokus penelitian dari UNS hingga UGM. Rumah Pancasila ini pun terbangun atas isyarat luhur para veteran kemerdekaan, " ujarnya dengan nada emosional.

Ia melanjutkan dengan kisah inspiratif tentang tradisi mengibarkan bendera Merah Putih setiap hari, sebuah warisan dari kakeknya yang seorang veteran, jauh sebelum ia memegang tampuk kepemimpinan desa.

"Kami sadar, Desa Tempuran adalah miniatur Indonesia kecil. Di saat daerah lain sibuk mendefinisikan perbedaan, kami di sini merawat kebersamaan. Hari ini, dari Kampung Pancasila, kami datang membawa cinta untuk Pak Dandim, mengiringi doa agar karier beliau kelak bersinar hingga tingkat jenderal, " ucap Priyanto, yang diaminkan oleh seluruh tokoh adat yang hadir.

Mendengar ketulusan warga, Letkol Inf Hermawan Adi Nugroho tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Dengan pendekatan yang begitu humanis, perwira menengah yang memiliki kenangan masa sekolah di Kranggan dan Secang ini mengungkapkan kekagumannya atas kedalaman toleransi yang ia saksikan langsung.

"Saya pernah bertugas dari NTT dekat Timor Timur hingga ke Aceh. Namun, harmoni di mana satu rumah bisa diisi oleh beberapa pemeluk agama yang berbeda secara damai, itu adalah hal langka yang jarang kita temukan di belahan Indonesia lain. Ini luar biasa, " ujarnya, matanya berbinar.

Di tempat lain, perdebatan mengenai Pancasila mungkin masih sering terdengar. Namun di Desa Tempuran, Pancasila telah melampaui definisi. Ia telah menjadi 'the heart of the core' atau inti dari inti kehidupan sehari-hari.

Letkol Inf Hermawan menekankan pentingnya menjaga warisan kultural ini di tengah maraknya isu intoleransi. Dengan kekayaan 17.500 pulau dan ribuan budaya di Indonesia, toleransi di tingkat tapak seperti yang dicontohkan Desa Tempuran menjadi kunci keselamatan bangsa.

"Mari kita sama-sama berdoa dan berusaha agar Desa Tempuran ini bisa menjadi contoh, kompas moral bagi negara Indonesia tentang arti toleransi yang sesungguhnya. Tugas kita adalah tetap mengamalkan Pancasila sebagai kepribadian bangsa, tanpa harus sekadar menghafalkannya seperti anak sekolah. Esensinya adalah tindakan nyata, " pungkasnya, mengakhiri pertemuan dengan harapan besar untuk masa depan Indonesia yang lebih harmonis.

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |