Jakarta, CNN Indonesia --
Aktivis Lingkungan Chanee Kalaweit menyampaikan kesaksiannya saat melakukan pemantauan dari udara atas kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Dari penelusuran pihaknya lewat udara, dia menunjukkan titik diduga pembukaan lahan untuk kebun kelapa sawit atau tambang jadi cikal karhutla. Penelusuran dari udara itu pun dibagikan rekamannya oleh Kalaweit via akun media sosialnya.
"Kenyataan di lapangan sering sekali muncul dari tambang emas ilegal karena mereka bakar lahan di sekitar tambang mereka untuk membesarkan tambang, sedangkan tambang emas ilegal itu merajalela di mana-mana dan kami melihat jelas bahwa ada koneksi juga dengan tambang emasnya, kalau bukan di perkebunan sawitnya," ucap Chanee saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (21/8) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia yang juga dikenal sebagai aktivis pemerhati hewan liar, terutama primata itu menyebut di Kabupaten Barito Utara, api hampir selalu ada dekat atau di samping daerah perkebunan sawit.
"Seperti yang saya bilang tadi, ada yang ditebang dulu kemudian dibakar, dan kemudian juga apinya menjalar ke mana-mana. Dan sekali lagi akan dibilang, 'Oh itu bukan perusahaan, itu masyarakat,' tapi skema yang saya jelasin itu tadi," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan pihaknya telah mengantongi sejumlah nama yang diduga terkait penyebab karhutla di wilayah Kalimantan.
Dia mengatakan temuan itu didapati dari penyelidikan dan investigasi terkait insiden Karhutla beberapa waktu terakhir.
"Kita lakukan penyelidikan dan investigasi terkait dengan peristiwa yang terjadi. Beberapa nama sudah kita amankan," ujarnya kepada wartawan, Jumat (21/8).
Di sisi lain, Listyo juga mengaku telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran untuk terus melakukan pemadaman area hutan yang telah terbakar.
"Saat ini yang sedang kita lakukan pemadaman," tuturnya.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup pun menerbitkan instruksi mendesak bagi enam gubernur di Sumatra dan Kalimantan guna memperketat penanganan.
Dalam surat pernyataan "Merespons Penurunan Kualitas Udara dan Ancaman Karhutla di Musim Kemarau 2026" yang diterima di Jakarta, Jumat (21/8), Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat memfokuskan perlindungan keselamatan masyarakat di Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan dalam pesan instruksi mendesak tersebut.
Fenomena El Nino kuat yang melanda Indonesia sejak Juli 2026 dinilai menjadi pemicu utama melonjaknya kerawanan karhutla hingga memicu penurunan kualitas udara yang signifikan di beberapa daerah itu.
KLH melaporkan data pemantauan terbaru mencatat konsentrasi PM2,5 di Kampar (Riau) mencapai 48,84 mikrogram per meter kubik, Ogan Ilir (Sumatera Selatan) 47,39 mikrogram per meter kubik, Katingan (Kalimantan Tengah) 30,16 mikrogram per meter kubik, Kota Jambi 26,18 mikrogram per meter kubik, Pontianak (Kalimantan Barat) 26,41 mikrogram per meter kubik serta Banjarmasin (Kalimantan Selatan) 17,40 mikrogram per meter kubik.
(mnf/kid)

4 hours ago
2
















































