NDUGA - Di balik dinginnya udara pagi Pos Mbua, Sabtu (29/11/2025), bukan hanya deretan tenda militer yang berdiri kokoh. Di sana, harapan warga Kampung Dangbet, Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, berbaris rapi. Satuan Tugas Yonif 400/Banteng Raiders menggelar pembagian Sarana Penggalangan (Sargal), paket vital yang berisi sembako, vitamin anak, hingga perlengkapan harian.
Agenda teritorial ini menjadi penyejuk di tengah operasi pengamanan wilayah yang intens di Pegunungan Tengah Papua. Program Sargal bukanlah sekadar bantuan insidental, melainkan sebuah model penugasan non-kinetik yang dinanti banyak warga yang terisolasi.
“Kami melihat langsung kebutuhan di lapangan, terutama untuk anak dan lanjut usia. Prioritas kami sederhana: memastikan roda hidup warga tetap berjalan, meski medan dan situasi tidak mudah, ” ujar Danpos Mbua, Kapten Inf Muslimin, di posko lapangan, Sabtu.
Senyum sumringah terpancar di wajah Mama-mama Papua dan anak-anak yang datang dengan kaki berlumpur. Mama Kogau Wurub, seorang tokoh mama pedagang di Mbua, merasakan kehadiran prajurit TNI menghadirkan rasa aman. Ia percaya, hukum dan negara kini berpihak pada mereka yang paling terpencil.
“Om-om TNI datang pas waktu paceklik. Kami simpan kebun di lembah, jalan ke puskesmas bisa seharian. Tapi mereka datang duluan ke kami. Itu buat kami kuat, itu buat kami tidak takut besok, ” tuturnya.
Senada, Kepala Distrik Mbua, Petrus Tabagau, mengapresiasi kontribusi program teritorial Banteng Raiders dalam menjaga stabilitas sosial-ekonomi. Terutama saat musim hujan menghambat mobilitas warga.
“Ketika warga dapat bantuan dan merasa aman bergerak, itu mendorong transaksi kampung tetap hidup. Ini bukan hanya pelayanan sosial, melainkan intervensi ekonomi tingkat kampung yang relevan untuk Nduga, ” ujarnya saat dikonfirmasi.
Dari Jayapura, Pangkoops Habema Mayjen TNI Lucky Avianto menegaskan dukungan penuh terhadap program Sargal. Baginya, ini adalah bagian dari strategi operasi teritorial jangka panjang.
“Sargal adalah bahasa paling jernih bahwa negara hadir. Bukan soal barangnya, tapi kepastian bahwa warga sipil di pedalaman mendapat prioritas perlindungan dan dukungan kehidupan, ” tegas Lucky.
Dr. Adriana Elisabeth, pengamat keamanan dan pembangunan Papua dari BRIN, menilai agenda semacam ini sangat efektif membangun konsep *human security*. Keamanan kini tak hanya berbicara ancaman bersenjata, namun memastikan hak dasar hidup tersambung.
“Model penugasan di Papua telah bergeser: keamanan tidak hanya bicara ancaman bersenjata, tetapi memastikan hak dasar hidup tetap tersambung. Banteng Raiders membaca kebutuhan itu, dan masuk lewat cara yang tepat: tatap muka, serap langsung keadaan, dan hadir reguler, ” katanya.
Hingga siang menjelang, tim Sargal tak berhenti. Paket bantuan diantarkan langsung ke rumah-rumah lansia yang tak mampu berjalan ke pos. Di Mbua, berita terbesar hari itu bukanlah tentang jarak yang membentang, melainkan bagaimana jarak itu dipangkas oleh kehadiran prajurit. Mereka menenteng tas sembako di satu tangan, dan senapan di tangan lainnya, mengemban dua misi, satu janji: warga sipil tidak boleh menjadi korban ruang kosong negara.


















































