Dialog TNI di Holomama: Jalin Kepercayaan, Pererat Persatuan di Intan Jaya

3 days ago 3

INTAN JAYA - Di tengah denyut kehidupan Kampung Holomama Bawah, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah, pada Rabu (26/11/2025), terdengar gaung dialog yang lebih besar dari sekadar pertemuan kecil. Personel Satgas Yonif 500/Sikatan, di bawah pimpinan Dantim 1 TK Mamba, Letda Inf Alpin D. Siagian, menggelar kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) yang menyentuh langsung hati warga.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Ini adalah perwujudan strategi TNI dalam membangun stabilitas melalui jembatan dialog dan pelayanan yang tulus, terutama di wilayah yang kerap diselimuti tantangan akses dan disinformasi konflik.

Sebanyak 10 personel TK Mamba Bawah bergerak dari rumah ke rumah, membuka percakapan dengan para tokoh adat dan orang tua. Bukan hanya telinga yang mendengarkan, tangan pun ikut berbagi. Bantuan sembako diserahkan kepada keluarga yang membutuhkan, termasuk kepada tokoh masyarakat, Philipus Sani. Tawa riang anak-anak yang menyambut para prajurit dengan senyum polos, menjadi saksi bisu tumbuhnya benih kepercayaan melalui perjumpaan yang tulus.

“Security is important, but trust is everything. Kami tidak bisa bicara soal persatuan jika kami hanya berdiri di pos. Maka kami hadir di ruang hidup masyarakat, untuk mendengar sebelum dimengerti, ” ujar Letda Alpin kepada awak media pada Rabu itu.

Letda Alpin ingin menegaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat adalah sebagai mitra keseharian, bukan sekadar penjaga keamanan. Ia menambahkan, Komsos bukan sekadar seremoni.

“Ini mekanisme deteksi dini konflik sekaligus memperkuat imunitas sosial warga dari narasi pemecah belah, ” tambahnya.

Philipus Sani, salah seorang tokoh masyarakat di Holomama Bawah, merasakan betul dampak pendekatan dialogis ini. Ia mengungkapkan bahwa warga kini merasa diperhatikan tanpa ada jarak psikologis yang membebani.

“Kami bicara langsung, tanpa rasa takut. Bantuan ini penting, tapi yang lebih besar adalah pesan bahwa kami bagian dari NKRI yang diajak bicara, bukan dipaksa bicara, ” kata Philipus.

Gregorius Kogoya (34), seorang guru lokal di sana, turut menyaksikan bagaimana dialog antara prajurit dan orang tua murid memberikan energi positif. Ia menuturkan bahwa anak-anak mendapatkan contoh nyata akan kebersamaan, sementara para orang tua merasa lebih berani untuk menyampaikan keluhan kecil terkait kesehatan dan pangan, sebuah hal yang baru bagi kampung tersebut.

Dr. Kalvin Maniagasi, seorang pengamat teritorial Papua dari Universitas Cenderawasih, menganalisis bahwa program sosial yang konsisten dan didasari perjumpaan langsung adalah kunci keberhasilan di wilayah seperti Sugapa.

“Persatuan di Papua Pegunungan tidak dibangun lewat slogan, tapi lewat legitimasi moral dan kehadiran. Satgas 500/Sikatan sedang mengisi celah itu, ” kata Kalvin saat dimintai analisisnya.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib, tanpa tergores insiden keamanan sekecil apapun. Satgas 500/Sikatan menegaskan komitmen mereka untuk terus melanjutkan Komsos dan bantuan sosial secara berkala hingga akhir masa penugasan, sejalan dengan prioritas dukungan pada klaster pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan pangan kampung.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |