Prajurit Banau dan Pemuda Gereja Ciptakan "Banner Natal" di Puncak Papua

1 day ago 17

PUNCAK - Suasana khidmat menyambut Natal mulai terasa kental di pedalaman Distrik Wangbe, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Di Kampung Marilaukin, sebuah inisiatif luar biasa terwujud saat personel Pos Marilaukin Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 732/Banau merangkul para pemuda gereja untuk bersama-sama menghadirkan kehangatan perayaan suci ini.

Sabtu (29/11/2025) menjadi saksi semangat kolaborasi yang membuncah. Sebanyak 12 pemuda gereja, di bawah arahan Serda Buamona dari Satgas, bahu-membahu dengan prajurit TNI. Mereka tak hanya sekadar memasang dekorasi, tetapi juga menanamkan pesan perdamaian melalui banner Natal yang menghiasi Gereja Klasis setempat. Lampu-lampu gemerlap, bunga Natal, hingga pohon Natal yang dirangkai dari ranting-ranting lokal menjadi bukti adaptasi kreatif di tengah keterbatasan material di wilayah 3T.

Kapten Inf. Frincen Sinaga, Komandan Pos Marilaukin, menjelaskan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar hiasan. Ini adalah manifestasi simbolis dari situasi keamanan dan harmoni sosial yang dijaga menjelang bulan Desember.

“Di sini Natal dirayakan di atas medan, jarak, dan kabut. Yang kami bantu adalah menyiapkan ruang damai bagi jemaat. Ketika gereja siap, hati warga pun siap, dan stabilitas kampung akan terjaga, ” ujar Kapten Inf. Frincen Sinaga.

Pandangan ini diamini oleh Pendeta Luis Wenda (46), Gembala Jemaat Gereja Klasis Marilaukin. Beliau menekankan dampak psikososial yang mendalam dari kegiatan ini, terutama bagi jemaat yang baru saja melewati musim hujan panjang dan berbagai hambatan logistik.

“Yang paling mahal di pedalaman Papua bukan lampunya, tapi ongkos kepercayaan sosial. Ketika prajurit duduk di atap gereja memasang lampu, itu artinya mereka juga memasang rasa aman, ” kata Pendeta Luis.

Perasaan haru dan semangat kebersamaan juga dirasakan oleh Yakobus Kemabu (18), salah satu pemuda gereja. Keterlibatan TNI, menurutnya, mempercepat persiapan Natal.

“Biasanya pasang sendiri bisa sampai malam. Hari ini kami bergotong royong, jadi kerja lebih ringan dan hati kami lebih senang menyambut ibadah Natal, ” ujar Yakobus.

Dampak positif kegiatan ini bahkan merambah ke ranah keluarga, seperti yang diungkapkan Mama Milika Zanambani (39), tokoh perempuan adat Kampung Marilaukin.

“Kalau gereja terang, anak-anak rajin ibadah dan sekolah. Kalau anak-anak ibadah dan sekolah, kampung ikut menjaga, ikut aman. Begitu cara kami melihatnya, ” ucap Mama Milika.

Kepala Distrik Wangbe, Aloysius Tabuni, S.Sos (51), menegaskan bahwa sinergi antara aparat dan warga adalah fondasi kuat untuk mendukung layanan dasar dan menjaga suasana perayaan.

“Pendekatan teritorial semacam ini selaras dengan kebutuhan warga, bukan formalitas. Negara harus hadir dengan kecepatan. Satgas di sini membantu kami mempercepat pelayanan sosial dan keagamaan, ” kata Aloysius.

Hingga senja menjelang, suasana di Kampung Marilaukin dilaporkan tetap tertib dan kondusif. Satgas Pamtas memastikan bahwa bantuan dekorasi ini murni untuk mendukung fasilitas ibadah, tanpa embel-embel ekonomi. Namun, efek domino dari rasa aman yang tercipta diharapkan dapat memicu geliat aktivitas jual beli dan mobilitas warga dalam menyambut Natal dan Tahun Baru.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |