Satgas 700/WYC: Kepercayaan, Kunci Pemulihan Keamanan di Puncak Papua

17 hours ago 7

PUNCAK - Kehadiran Satgas Mobile Yonif 700/Wira Yudha Cakti (WYC) di Kabupaten Puncak, Papua Pegunungan, sepanjang tahun 2025 telah menjadi katalisator pemulihan rasa aman yang mendalam. Lebih dari sekadar patroli rutin, operasi ini merangkul masyarakat melalui pendekatan yang menyentuh hati, terbukti efektif membangun kepercayaan dan mengembalikan denyut kehidupan di dataran tinggi yang strategis.

Personel TNI yang bertugas di lima distrik vital—Ilaga, Ilaga Utara, Gome, Omukia, dan Gome Utara—telah memperluas jangkauan mereka melampaui tugas pengamanan. Mereka hadir di tengah warga, memberikan layanan kesehatan yang dibutuhkan, membuka pintu pengetahuan melalui kelas literasi, bahkan turut serta dalam karya bakti yang mempererat kebersamaan.

Agus Murib, Kepala Distrik Ilaga Utara yang berusia 54 tahun, menyaksikan langsung perubahan positif tersebut. Ia menuturkan, “Sekarang warga mulai terasa berani buka lapak sampai sore di pasar. Anak-anak tidak ragu keluar honai, bahkan ajak kami foto saat patroli lewat. Itu tandanya torang (kami) mulai pulih, ” ungkapnya dengan nada lega kepada awak media pada Minggu, (30/11/2025).

Agus menekankan bahwa pondasi stabilitas di wilayahnya adalah kolaborasi erat antara TNI dan tokoh lokal.

“Kalau aparat dan masyarakat jalan sendiri-sendiri, damai hanya slogan. Tapi sekarang kami bicara tiap minggu, ada ruang dengar. Itu bikin semua saling jaga, ” tambahnya, menggarisbawahi pentingnya dialog berkelanjutan.

Lettu Inf. Risal, Danpos Bendungan Ilaga yang baru berusia 29 tahun, menjelaskan filosofi di balik pola operasi yang dijalankan.

“Wilayah kami amankan, tetapi ritme hidup warga juga kami rawat. Kami antar obat saat Honai gelap, kami buka kelas baca-tulis di pos, dan kerja bakti di halaman gereja. Ini bukan operasi senjata, tapi operasi hati, ” tegasnya.

Ia mengakui beratnya tantangan geografis dan psikologis yang dihadapi. “Di sini hujan dan kabut bisa turun sewaktu-waktu. Tapi tantangan terbesar tetap membangun percaya. Kalau warga bisa tersenyum duluan, sisanya lebih mudah, ” ujar Lettu Risal, menunjukkan empati yang mendalam.

Kesaksian serupa datang dari Undius Kogoya, tokoh adat Omukia yang berusia 60 tahun. Ia mengapresiasi konsistensi kehadiran Satgas.

“Mereka tidak hanya jaga jalan, tapi jaga masa depan. Anak-anak belajar pegang buku dari tangan loreng. Itu modal damai yang tak bisa dibeli, ” tuturnya, menyiratkan dampak jangka panjang dari interaksi tersebut.

Pendekatan humanis ini telah membuahkan hasil nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Aktivitas ekonomi di Pasar Ilaga kembali menggeliat, ditandai dengan ramainya pedagang dan jam operasional lapak yang semakin panjang. Di sektor pendidikan, sekolah di Ilaga Utara kini dapat menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara rutin, disambut dengan antusiasme dan tingkat kehadiran murid yang terus membaik.

Program bakti sosial dan senam pagi yang digagas Satgas di berbagai kampung telah menjadi forum interaksi rutin yang hangat, mempertemukan warga dari berbagai generasi. Mama Maria, seorang pedagang sayur di Pasar Ilaga yang kini berusia 45 tahun, merasakan perubahan signifikan pada kehidupannya.

“Dulu terasa cepat sunyi. Sekarang lebih lama hidup. Saya bisa jualan keladi dan sayur, anak pulang sekolah masih sempat bantu, ” katanya, menyiratkan kelegaan dan harapan baru.

Keberadaan Satgas 700/WYC di Puncak Papua pada tahun 2025 menjadi bukti nyata evolusi paradigma operasi keamanan TNI. Ini bukan lagi sekadar upaya mengamankan wilayah fisik, melainkan sebuah misi mulia untuk mengamankan ruang hidup dan merawat mimpi generasi muda, dengan kepercayaan yang terjalin erat sebagai medan juang utama.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |