Sayur Kebun Jadi Simbol Kasih: TNI dan Warga Papua di Intan Jaya

1 week ago 24

INTAN JAYA - Di tengah lanskap Intan Jaya yang masih menyimpan tantangan, sebuah kisah menyentuh terungkap di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Senin, (17/11/2025), menjadi saksi bisu kehangatan yang terjalin antara prajurit TNI dan penduduk lokal, sebuah gambaran nyata dari pengabdian yang melampaui sekadar tugas penjagaan. Sebanyak 10 personel dari Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 500/Sikatan Pos Titigi tak hanya menjalankan misi, tetapi juga membangun jembatan hati melalui kegiatan komunikasi sosial (komsos) bersama keluarga Yermis Hagisimijau, seorang tokoh adat yang disegani.

Pertemuan yang dilangsungkan di halaman honai sederhana itu bukan sekadar basa-basi. Sertu Jafar bersama rekan-rekannya duduk bersila, berbincang hangat, mendengarkan setiap keluh kesah, bahkan tak ragu memberikan pemeriksaan kesehatan ringan bagi keluarga Yermis. Sebuah interaksi yang menunjukkan bahwa di balik seragam loreng, ada hati yang peduli dan siap melayani.

Momen paling mengharukan terjadi ketika keluarga Yermis hadir membawa bingkisan tak ternilai: beberapa ikat sayuran segar hasil panen kebun mereka. Bagi masyarakat adat Papua, memberikan hasil bumi adalah bentuk penghormatan tertinggi, sebuah bahasa kasih yang paling tulus.

“Kami tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan bapak-bapak TNI. Tapi sayur dari kebun ini kami berikan sebagai tanda terima kasih karena sudah bantu kesehatan keluarga kami, ” ujar Yermis dengan suara bergetar, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam.

Pemberian sederhana itu bukan sekadar sayuran, melainkan simbol kuat dari kedekatan yang terjalin antara prajurit Yonif 500/Sikatan dan masyarakat. Ia juga menjadi penanda kokohnya rasa percaya warga terhadap kehadiran TNI di Intan Jaya, sebuah kepercayaan yang dibangun melalui tindakan nyata dan pendekatan yang menyentuh jiwa.

Sertu Jafar menegaskan bahwa pendekatan humanis adalah kunci utama dalam merajut hubungan yang erat dengan masyarakat Papua. Ia percaya bahwa sekecil apapun bantuan yang diberikan, asalkan bermanfaat bagi kesehatan dan kebahagiaan warga, maka itulah nilai tertinggi dari pengabdian seorang prajurit.

“Bantuan yang kami berikan mungkin kecil, tapi kalau itu bermanfaat untuk kesehatan dan kebahagiaan masyarakat, itulah nilai tertinggi dari pengabdian kami, ” tegasnya.

“Masyarakat di Papua adalah keluarga kami. Kami ingin tumbuh dan saling menguatkan bersama, ” tambahnya, menggarisbawahi semangat persaudaraan yang ia rasakan.

Apresiasi mendalam datang dari Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto. Ia memandang langkah humanis para prajurit sebagai esensi keberhasilan operasi di Papua, yang tak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga kedekatan emosional dengan masyarakat.

“Prajurit adalah duta dari hati nurani bangsa. Tugas kita bukan hanya menjaga keamanan, tetapi menghadirkan rasa aman dan cinta tanah air di hati rakyat Papua, ” ujar Mayjen Lucky.

“Tindakan kecil seperti membantu kesehatan warga atau menerima hasil kebun adalah wujud strategi kita: merebut hati rakyat, ” lanjutnya, menekankan pentingnya aspek kemanusiaan dalam setiap gerak langkah TNI.

Mayjen Lucky menegaskan komitmen TNI untuk menjadi garda terdepan, tidak hanya dalam menjaga kedaulatan negara, tetapi juga dalam misi kemanusiaan yang tulus.

Kisah dari Kampung Titigi ini menjadi bukti nyata bahwa kedamaian di Papua tak hanya diraih melalui kekuatan bersenjata, melainkan juga melalui sentuhan hati yang tulus dan jalinan persaudaraan yang kuat. Di tengah aroma sayur segar yang dibawa dari kebun keluarga Yermis, terukir pesan bahwa keharmonisan antara masyarakat dan TNI adalah pondasi kokoh bagi masa depan Intan Jaya yang lebih baik.

(jurnalis)

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |