INTAN JAYA - Di tengah kehangatan pagi yang menyambut akhir tahun, halaman Sekolah Dasar YPPK Titigi di Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah, menjadi saksi bisu terjalinnya ikatan yang lebih dalam. Pada Jumat, (28/11/2025), 12 personel Satgas Pamtas RI–PNG Mobile TK Titigi, di bawah komando Letda Inf Fedriko, memilih ruang publik ini untuk menggelar Komunikasi Sosial (Komsos) bersama tokoh adat dan para guru. Langkah ini mengalihkan fokus dari rutinitas operasi perbatasan menjadi sebuah ajang dialog personal yang membangun kepercayaan.
Alih-alih memilih ruang formal pos komando, para prajurit TNI hadir di tengah denyut kehidupan kampung, tepatnya di sekolah tempat generasi penerus Titigi menimba ilmu. Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk mendengarkan langsung aspirasi warga, terutama menjelang perayaan Natal 2025, sebuah momentum yang bagi masyarakat Titigi sarat akan makna persaudaraan.
Letda Inf. Fedriko mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya TNI untuk memahami kebutuhan sosial masyarakat secara langsung, tanpa sekat birokrasi.
"Kami ingin memastikan pesan keamanan juga punya pesan kedekatan. Jadi kami datang, duduk, dan bicara. Kami ingin dengar langsung dari sumber pertama: warga dan guru yang ada di tengah anak-anak setiap hari, " ujar Fedriko.
Suara yang paling berkesan datang dari tokoh adat Kampung Titigi, Musa Mujijau (54). Ia merasakan adanya keterlibatan yang berbeda bagi warga berkat Komsos yang digelar di sekolah.
"Kami ini kampung kecil, tapi kalau soal Natal, hatinya besar. Saat TNI datang di sini, bukan di pos, kami merasa ini bukan program sementara. Ini seperti ada kontrak sosial baru: mereka ingin kenal anak-anak kami, kenal guru kami, kenal adat kami, " tuturnya.
Dari perspektif pendidikan, guru senior SD YPPK Titigi, Marthen Hagisimijau (46), melihat interaksi ini memberikan dorongan moral yang signifikan bagi para pengajar yang kerap menghadapi keterbatasan.
"Sekolah ini jauh dari fasilitas kota. Tapi ketika ada negara yang datang bukan bawa instruksi, tapi tanya: ‘Apa yang kalian butuh?’ – itu bakar semangat kami. Anak-anak lihat sendiri, TNI bukan sesuatu yang menakutkan, mereka teman bicara orang tua dan guru, " ucap Marthen.
Dukungan terhadap pendekatan ini juga datang dari Komandan TK Titigi, Kapten Inf. Yosman D. Imbiri (40). Ia menegaskan bahwa pola pendekatan "aman nyaman" menjadi prioritas dalam penguatan di akhir tahun.
"Natal harus menjadi momen syukur yang tanpa gangguan rasa cemas. Tugas kami memastikan ruang ibadah aman, dan ruang sosial tetap hangat, " katanya.
Kapten Inf. Yosman menambahkan, kedekatan yang terjalin antara TNI dan warga di Titigi telah berhasil meredam stereotip negatif dan menumbuhkan rasa saling memiliki.
"Yang kami jaga bukan hanya batas negara, tapi denyut kampung di batas itu sendiri, " tandasnya.
Meskipun Distrik Sugapa masih dihadapkan pada tantangan keamanan dan akses logistik, hari itu di Titigi membuktikan bahwa pendekatan teritorial yang paling efektif seringkali berawal dari tempat yang paling sederhana: halaman sekolah yang diselimuti kabut, namun dipenuhi percakapan tulus.


















































