Bocah SD di Ngada NTT Akhiri Hidup, Sempat Tulis Surat untuk Ibu

2 hours ago 1

Manggarai Barat, CNN Indonesia --

Seorang siswa kelas IV berusia 10 tahun di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.

Tempat kejadian perkara itu berada tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, mengatakan sejauh ini pihaknya menduga surat tulisan tangan itu dibuat korban sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

"Kesimpulan ini berdasarkan hasil pencocokan tulisan dengan beberapa buku tulis yang dimiliki korban. Tim penyidik menemukan kesamaan yang jelas antara tulisan di surat dengan tulisan di buku-buku tersebut," jelas Benediktus Pissort kepada CNNIndonesia.com via aplikasi pesan Whatsapp, Selasa (3/2).

Dalam foto yang dilihat, surat itu ditulis tangan dalam bahasa Ngada.

Dalam surat tersebut, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Dalam surat itu juga itu ditulis agar ibunda merelakannya--tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya.

Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.

Pissort menerangkan dalam perkara dugaan akhiri hidup sendiri ini, kepolisian telah meminta keterangan sejumlah saksi yang merupakan warga sekitar di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Dari pemeriksaan, salah satu saksi yakni Kornelis Dopo mengatakan pada hari peristiwa, sekitar pukul 11.00 Wita dirinya menemukan jasad tergantung di pohon saat akan mengikat kerbau tak jauh dari tempat tinggal korban bersama neneknya.

Saksi lalu berlari sambil berteriak minta bantuan. Beberapa warga kemudian datang ke lokasi dan menghubungi pihak kepolisian.

Dua saksi lain yakni Gregorius Kodo (35) dan Rofina Bera (34) mengaku pada pagi hari, sekitar pukul 08.00 Wita, mereka bertemu korban yang sedang duduk di bale-bale di luar pondok tempat tinggalnya.

Mereka sempat berbincang dengan korban, dan bertanya alasan tak masuk sekolah pada hari tersebut.

"Saat ditanya, korban hanya menunduk dan terlihat sedang sedih," ujar Pissort menjelaskan jawaban salah satu saksi itu.

Dalam pemeriksaan polisi, Gregorius Kodo mengatakan keluarga korban menghadapi banyak tantangan hidup, sehingga bocah itu tinggal bersama neneknya di pondok tersebut.

Dari pemeriksaan kepolisian, diduga sebelum ditemukan tewas tergantung, korban sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pena kepada ibunya. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibundanya tidak memiliki uang yang cukup.

Ibunda korban, MGT (47) mengaku pada malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumahnya. Lalu keesokan paginya, sekitar pukul 06.00, MGT meminta tukang ojek untuk mengantarkan korban ke pondok neneknya.

Ibunda korban mengaku pernah memberikan nasihat terakhir agar anaknya tetap rajin bersekolah.

Dari pemeriksaan polisi, ibunda korban mengaku kondisi ekonomi keluarga tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan.

Disclaimer Kesehatan Mental - rev1

(lou/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |