LANNY JAYA - Di tengah suasana duka yang menyelimuti Kampung Gwilonik, Distrik Goa Baliem, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, kehadiran prajurit TNI membawa semangat kebersamaan dan kepedulian. Personel Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 742/Satya Wira Yudha (SWY) turun langsung membantu warga menyiapkan prosesi adat Bakar Batu untuk keluarga yang sedang berduka, Rabu (3/6/2026).
Sebanyak 10 prajurit dari Pos Titik Kuat (TK) Wamitu bergotong royong bersama masyarakat menyiapkan berbagai kebutuhan acara adat yang akan digelar untuk keluarga Bapa Jhon Kagoya. Mulai dari menyiapkan lokasi hingga membantu berbagai pekerjaan teknis lainnya, seluruh kegiatan dilakukan secara bersama-sama sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap warga.
Di Papua, tradisi Bakar Batu bukan sekadar ritual adat, melainkan simbol kebersamaan, penghormatan, dan penguatan ikatan sosial di tengah masyarakat. Karena itu, kehadiran prajurit TNI dalam prosesi persiapan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat setempat.
Komandan Pos TK Wamitu, Kapten Inf Agus Julkarnain, yang memimpin langsung kegiatan tersebut menegaskan bahwa tugas TNI tidak hanya menjaga keamanan wilayah, tetapi juga hadir sebagai bagian dari masyarakat dalam berbagai situasi, termasuk saat warga mengalami musibah.
"Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat tidak sendiri menghadapi masa-masa sulit. Kehadiran personel Satgas di Kampung Gwilonik adalah bentuk empati dan kepedulian kami kepada keluarga yang sedang berduka. Melalui gotong royong ini, kami berharap dapat sedikit meringankan beban yang mereka rasakan, " ujar Kapten Inf Agus Julkarnain.
Menurutnya, kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan sosial seperti ini merupakan bagian dari nilai luhur yang terus dijaga oleh prajurit selama menjalankan tugas di Papua.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 742/SWY, Letkol Inf Dedi Risdiantoro, S.I.P. Ia menegaskan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak hanya diwujudkan melalui tugas pengamanan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap masyarakat.
"Prajurit TNI harus hadir sebagai pelindung sekaligus pengayom rakyat. Di balik tugas menjaga keamanan, ada nilai kemanusiaan yang harus terus dijunjung tinggi. Kehadiran anggota kami di tengah keluarga yang berduka merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat dan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat, " tegas Letkol Dedi Risdiantoro.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di wilayah Papua Pegunungan.
Kehadiran prajurit dalam prosesi persiapan adat Bakar Batu disambut hangat oleh masyarakat. Keluarga almarhum mengaku terbantu dengan dukungan tenaga dan perhatian yang diberikan personel Satgas.
Bapa Jhon Kagoya, mewakili keluarga yang berduka, menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan para prajurit.
"Kami sangat bersyukur atas bantuan bapak-bapak TNI. Kehadiran mereka membantu kami mempersiapkan acara adat ini dan membuat kami merasa tidak sendiri menghadapi duka. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami, " ungkapnya dengan haru.
Momen gotong royong tersebut menjadi bukti bahwa hubungan antara TNI dan masyarakat Papua tidak hanya terjalin dalam tugas-tugas keamanan, tetapi juga tumbuh melalui kepedulian dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah pegunungan Papua yang sejuk, semangat saling membantu dan menghormati tradisi lokal terus menjadi jembatan yang mempererat persaudaraan. Melalui aksi sederhana namun penuh makna itu, Satgas Yonif 742/SWY kembali menunjukkan bahwa kehadiran TNI di Papua bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan negara, tetapi juga sahabat masyarakat yang selalu hadir dalam suka maupun duka.
Autentikasi: Pen Satgas Yonif 742/SWY


















































