Water Guardian, Dari Peduli Jadi Aksi Sanitasi Bagi Warga Kemayoran

5 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepedulian terhadap persoalan air bersih dan sanitasi mendorong Darren Ismaya Karmaina mengambil langkah lebih jauh. Sebagai seorang pelajar, ia melihat isu tersebut bukan sekadar persoalan yang dapat dibicarakan, tetapi tantangan yang membutuhkan aksi di tengah masyarakat.

Dari kepedulian itu lahir Water Guardian, sebuah inisiatif sosial yang digagas Darren untuk menerjemahkan perhatian generasi muda terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat menjadi aksi nyata.

Langkah pertama Water Guardian diwujudkan melalui pembangunan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) bagi masyarakat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek ini menjadi upaya untuk menghadirkan akses sanitasi sekaligus membangun kesadaran bahwa keberadaan fasilitas saja tidak cukup tanpa pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut berangkat dari ketertarikan Darren terhadap isu air bersih dan sanitasi, yang sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 6 tentang Clean Water and Sanitation.

Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi sebuah proyek yang mempertemukan generasi muda dengan masyarakat, pemerintah daerah, tokoh setempat, mitra CSR, dan berbagai pihak lainnya.

"Saya mulai bertanya, apa yang sebenarnya bisa dilakukan seorang pelajar untuk membantu menghadapi persoalan nyata di masyarakat?" ujar Darren.

Pertanyaan tersebut menjadi titik awal bagi Darren untuk membawa Water Guardian dari sebuah gagasan menuju aksi di lapangan.

Groundbreaking fasilitas Water Guardian dilakukan pada Juni 2026 dengan melibatkan unsur pemerintah setempat, tokoh masyarakat, dan warga. Setelah melalui proses pembangunan, fasilitas MCK kini telah rampung dan memasuki tahap operasional.

Namun, bagi Darren, berdirinya sebuah fasilitas bukanlah garis akhir. Justru setelah pembangunan selesai, muncul tantangan yang lebih panjang, yakni memastikan fasilitas tersebut digunakan, dirawat, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Membangun fasilitas adalah langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut benar-benar digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat," kata Darren.

Atas dasar itu, proyek di Kemayoran diposisikan sebagai Site #1 Water Guardian. Lokasi tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk melihat bagaimana sebuah fasilitas sanitasi berbasis masyarakat dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Water GuardianFoto: Arsip Water Guardian

Tahap berikutnya akan diarahkan pada pemeliharaan fasilitas, keterlibatan masyarakat, pemantauan penggunaan, kualitas air, kebersihan dan higiene, hingga pengukuran dampak secara berkala.

Water Guardian ingin menjadikan proses tersebut sebagai perjalanan yang terus berkembang. Setelah fasilitas dibangun, perhatian beralih pada bagaimana fasilitas itu beroperasi.

Dampaknya kemudian perlu diukur dan dipelajari melalui riset untuk mengetahui apa yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Hasil pembelajaran itu nantinya diharapkan dapat membantu Water Guardian mengembangkan model yang lebih baik. Jika pendekatan di Kemayoran terbukti efektif dan berkelanjutan, pengalaman tersebut dapat menjadi pijakan untuk direplikasi.

Dengan pendekatan tersebut, Water Guardian tidak semata-mata ingin membangun infrastruktur. Inisiatif ini juga ingin mempelajari bagaimana sebuah fasilitas sanitasi dapat dikelola dan dipertahankan agar manfaatnya tidak berhenti setelah proyek pembangunan selesai.

Bagi Darren, perjalanan Water Guardian sekaligus menjadi pengalaman belajar tentang kepemimpinan.

Persoalan sosial yang ditemuinya di lapangan membuat Darren memahami bahwa tantangan di masyarakat jauh lebih kompleks dibandingkan ketika isu tersebut dibahas di dalam kelas.

Menjalankan proyek ini membuatnya belajar mendengarkan masyarakat, berkomunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, meminta bantuan dari mereka yang lebih berpengalaman, menggalang dukungan, hingga menghadapi berbagai keterbatasan dalam pelaksanaan.

Dari pengalaman itu, Darren memahami bahwa sebuah proyek sosial tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan gagasan satu orang.

Water GuardianFoto: Arsip Water Guardian

Karena itu, Water Guardian tidak ingin dipandang sebagai proyek seorang pelajar yang datang untuk "menyelamatkan" sebuah komunitas.

Sebaliknya, inisiatif tersebut ingin tumbuh sebagai ruang kolaborasi antara generasi muda, masyarakat, pemerintah, sektor swasta, dan ke depan, kalangan akademisi.

Masyarakat tetap ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Darren dan Water Guardian berupaya mempertemukan kepedulian, sumber daya, pengetahuan, dan aksi agar solusi yang dibangun dapat relevan dengan kebutuhan di lapangan.

Melalui Water Guardian, Darren ingin menunjukkan bahwa generasi muda tidak harus menunggu sampai dewasa untuk mulai berkontribusi terhadap persoalan di sekitarnya.

Namun, kepedulian saja tidak cukup. Sebuah persoalan sosial membutuhkan aksi, kolaborasi, pengukuran dampak, serta perbaikan agar solusi yang dihadirkan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Karena itu, fasilitas MCK yang telah selesai dibangun di Kemayoran bukan menjadi penutup perjalanan Water Guardian.

"Bagi kami, pertanyaan terpenting setelah fasilitas ini digunakan bukan hanya apakah fasilitasnya sudah selesai, tetapi apakah yang kami bangun benar-benar bekerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat?" tutur Darren.

Bagi Darren, jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi pijakan bagi perjalanan Water Guardian berikutnya. Jika pengalaman di Kemayoran menunjukkan hasil yang positif, proyek tersebut tidak hanya menjadi satu fasilitas sanitasi, tetapi juga menjadi pembelajaran tentang bagaimana sebuah inisiatif yang digerakkan generasi muda dapat dikembangkan dan diterapkan di tempat lain.

(ory/ory)

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |