Jelang Natal, TNI Jalin Harmoni di Kebun dan Honai Sugapa

3 days ago 3

INTAN JAYA - Menjelang perayaan Natal 2025, kehadiran prajurit TNI dari Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 500/Sikatan di Kampung Holomama, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah, membawa nuansa kehangatan yang berbeda. Alih-alih dalam forum resmi, interaksi hangat terjalin di tengah aktivitas warga, tepatnya di kebun dan dalam honai milik tokoh masyarakat Niko Sani pada Kamis (27/11/2025). Sebanyak 10 prajurit, dipimpin Letda Inf Nasrul, turut merasakan denyut kehidupan masyarakat pegunungan dengan ikut memilah hasil kebun lokal seperti sayuran dan umbi-umbian.

Pendekatan langsung ke basis ekonomi masyarakat ini, yakni sektor pertanian, terbukti menjadi strategi teritorial yang ampuh di wilayah yang minim akses dan rentan terhadap disinformasi kelompok kekerasan. Pendekatan ini bukan sekadar pengamanan, melainkan upaya menguatkan rasa kebangsaan.

“Kedamaian di Holomama bukan hanya diukur dari ketiadaan tembak, tapi dari ketiadaan rasa takut warga menyambut hari besar mereka, ” ujar Letda Nasrul kepada media di lapangan, Kamis.

Ia menambahkan, kehadiran personel TNI melampaui fungsi pengamanan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Lebih dari itu, mereka bertekad menguatkan rasa kebangsaan melalui perjumpaan langsung yang tulus.

“Kami ingin memastikan TNI hadir di ruang hidup masyarakat, bukan hanya di perbatasan teritorial, tetapi di batas-batas keseharian yang menyangkut pangan, pendidikan, dan rasa aman, ” katanya.

Bagi Komandan Titik Kuat (TK) Holomama, Kapten Inf Sugianto, momentum Natal di Sugapa menjadi penanda penting untuk meningkatkan dukungan pada layanan dasar. Menyadari tantangan rentang jarak ke fasilitas kesehatan dan pasar, Satgas bertekad memastikan kenyamanan warga dalam menjalankan ibadah.

“Saudara kami di Holomama harus bisa beribadah khusyuk. Kami di sini memastikan stabilitas terjaga, agar doa mereka tidak diganggu ketakutan, dan panen mereka tidak diganggu propaganda, ” jelas Sugianto.

Dampak psikologis dan sosial dari kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) ini dirasakan sangat kuat oleh warga. Niko Sani (60), tokoh masyarakat dan orang tua adat setempat, mengungkapkan kelegaan dan kebahagiaan atas kedatangan prajurit yang datang dengan hati.

“Mereka datang bukan dengan perintah, tapi dengan telinga. Itu yang bikin hubungan makin kuat. Natal tahun ini terasa berbeda—kami bicara masa depan anak, bukan masa depan konflik, ” kata Niko.

Elisabeth Agapa (39), seorang guru pendidikan kewarganegaraan di wilayah pegunungan, menilai interaksi prajurit dengan orang tua di kampung turut mengubah cara pandang anak muda terhadap peran negara. Dialog yang terjadi di kebun dan rumah dianggap lebih jujur dan mendekatkan.

“Ketika dialog terjadi di kebun dan rumah, itu justru lebih jujur. Anak-anak melihat negara sebagai sahabat belajar, bukan idea yang jauh, ” ujarnya saat dihubungi, Kamis.

Analis keamanan Papua Pegunungan dari BRIN, Adriana Elisabeth, memandang Komsos berbasis perjumpaan informal semacam ini sebagai instrumen soft power yang efektif dalam menangkal radikalisme dan narasi kekerasan.

“Interaksi repetitif, humanis, dan menyentuh klaster pangan jelang hari besar, menutup ruang legitimasi kelompok bersenjata yang sering memonetisasi rasa takut dan kekosongan layanan, ” kata Adriana.

Kegiatan yang berlangsung tanpa gangguan keamanan ini diakhiri dengan kesepakatan antara warga dan personel untuk menjadwalkan pertemuan lanjutan. Fokusnya adalah pendampingan ketahanan pangan dan kesehatan keluarga, sebagai wujud nyata rajut persatuan yang dimulai dari hal-hal kecil menjelang masa Natal.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Sekitar Pulau| | | |